Perempuan: Antara Radikalisme dan Kontra Radikalisme

IMG-20190910-WA0001

IMG-20190910-WA0002

Perempuan: Antara Radikalisme dan Kontra Radikalisme

Selasa (10/09/2019) digelar Pengukuhan dua Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, yakni Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah M. Ag. dan Prof. Dr. Mohammad Nur Yadin M. Ag. Hadir pada acara ini, di antaranya Pengelola dan Direktur Pascasarjana PTKIN dan PTKIS se Jawa Timur. Mewakili Pascasarjana IAIN Ponorogo adalah Direktur (Dr. Aksin), Wadir (Dr. Abid Rohmanu) dan Ketua Program Studi MPI (Nurkolis, Ph. D). Pengukuhan dilaksanakan di Auditorium Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim.

Prof. Umi sumbulah adalah profesor perempuan ketiga UIN Maulana Malik Ibrahim yang mempunyai konsen pada wacana “Perempuan, Keluarga, dan Gerakan Deradikalisme”. Dalam orasinya yang berjudul” Perempuan dan Keluarga: Radikalisme dan Kontra Radikalisme” Prof. Sumbulah menegaskan adanya bias gender dalam melihat keterlibatan perempuan dalam radikalisme. Prof. Sumbulah menyatakan telah terjadi” pergeseran peran perempuan” dalam gerakan radikalisme di Indonesia.

Asumsi radikalisme yang selama ini identik dengan laki-laki telah bergeser dan terdistribusi pada kaum perempuan. Perempuan tidak lagi dibatasi pada peran minor dalam praktek radikalisme (pendukung laki – laki dalam mengumpulkan informasi, merawat kesehatan, dan memelihara rumah aman). Perempuan telah terlibat langsung dalam tindakan kekerasan atas nama agama (pengantin jihad dan kombatan). Kasus terorisme yang dilakukan satu keluarga (pelibatan anak-istri) di Surabaya dan penangkapan enam perempuan dalam kasus terorisme 2016 adalah sebagian kecil contoh pergeseran peran perempuan.

Oleh karena itu, Prof. Sumbulah mengajak mengakhiri pandangan bias gender terhadap radikalisme di Indonesia. Perempuan harus dilibatkan dalam wacana dan gerakan kontra radikalisme. Peran perempuan dalam derakalisme tidak terbatas pada wilayah domestik tetapi juga merambah wilayah publik sesuai dengan kapasitas dan kompetensi perempuan (perempuan sebagai Ibu rumah tangga dan sebagai penggerak sosial). Untuk kepentingan di atas, Profesor dalam bidang Studi Islam ini yang juga Istri dari Dr. H. Agus Purnomo (Warek II IAIN Ponorogo) menyampaikan beberapa tawaran kontra radikalisme perempuan. Tawaran tersebut adalah: penguatan struktur keluarga sakinah, pendampingan/penguatan perempuan dalam menangkal redikalisme, dan penguatan kualitas hidup perempuan dalam berbagai askpek (sosial-budaya, ekonomi, kesehatan reproduksi) untuk menyebut sebagian.

Di akhir acara, Dr. Aksin, Direktur Pascasarjana Ponorogo berharap pengukuhan Guru Besar ini membawa spirit baru, khususnya para Dosen Pascasarjana IAIN Ponorogo untuk meningkatkan jenjang karir akademik tertinggi, yakni Guru Besar. (AR)